Andreannf: Mata Kuliah Kajian Sosial Iklan
Showing posts with label Mata Kuliah Kajian Sosial Iklan. Show all posts
Showing posts with label Mata Kuliah Kajian Sosial Iklan. Show all posts

Friday, May 29, 2020

TowilFiets, Kayuhanmu Menghidupi (Essay Mengenai TowilFiets)
May 29, 20200 Comments
Kota Yogyakarta atau lebih luas lagi dalam lingkup DIY mungkin sudah tidak asing lagi dalam dunia pariwisata. Bahkan dapat dibilang hampir seluruh kabupaten dan kota didalamnya memiliki tempat wisata alam maupun buatan yang menarik dimata para wisatawan local dan manca negara. Tak lupa pula tittle Yogyakarta yang kental akan budayanya juga turut dijadikan daya Tarik wisata tersendiri di dunia pariwisata. Bermain, belajar, mengamati, mencari inspirasi, dan lain sebagainya merupakan beberapa dari sekian banyak alasan mengapa Yogyakarta menjadi lokasi tujuan untuk berwisata. Jelas dengan permintaan yang semakin tinggi dan kesadaran masyarakat akan itu, pariwisata di Yogyakarta terus berkembang seiring waktu baik yang dibina dan diakomodir oleh pemerintah daerah secara langsung maupun inisiatif dari kelompok masyarakat di sekitar lokasi wisata. Hal ini lah yang terus dilanjutkan pengembangan dan perbaikannya karena dirasa memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat maupun pendapatan daerah. Di Kabupaten Sleman sendiri pada tahun 2019, Dinas Pariwisata Sleman melansir bahwa kontribusinya sector pariwisata sendiri menyumbang Rp 218,475 miliar atau mencapai 24,42 persen dari keseluruhan PAD.

Peran aktif masyarakat serta kemandiriannya dalam mendukung dan mensukseskan DIY sebagai tujuan pariwisata pun juga ditunjukkan oleh salah satu tokoh yang dengan hal sederhana dan bisa memanfaatkan sisi ke asrian Jogja. Dialah Muntowil, seorang pria kreatif berumur 46 tahun yang memanfaatkan kekayaan daerahnya dan hobinya sebagai lini usaha yang mendunia. Bertempat di Dusun Bantar, Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, ia menjalankan usahanya. Bagi sebagian masyarakat Yogyakarta sendiri pun daerah tersebut terdengar asing, namun disanalah Muntowil atau yang akrab disapa Towil menemukan hidden paradisenya sendiri bersama bisnis pariwisatanya bernama Towilfiets. Towilfiets sendiri diambil dari gabungan antara namanya (Towil) dan sepeda dalam Bahasa Belanda yaitu Fiets. Dan sesuai dengan namanya, alat yang ia andalkan sebagai daya Tarik utama dari bisnis tersebut adalah sepeda onthel. Sebuah identitas masyarakat Jawa kuno yang mulai ditinggalkan namun berhasil dimanfaatkan olehnya. Mengapa? Tren sendiri sebenarnya tidak berubah, melainkan hanya berputar dan akan Kembali suatu saat. Ketika sepeda onthel tersebut sudah lama ditinggalkan, tentu perlahan akan muncul rasa nostalgia dalam diri seseorang untuk ingin menggunakannya Kembali. Dan peluang itulah yang sengaja di ciptakan untuk diterapkan dibisnisnya. Bermula dari 5 sepeda yang ia punyai dan sempat ditegur oleh ibu mertuanya karna hanya menumpuk dan dirasa terlalu berlebihan untuk digunakan sendirian, Towil perlahan membuktikan alat transportasi tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang cukup menjanjikan hingga kini ia telah memiliki sebanyak 100 buah sepeda onthel dengan taksiran harga yang cukup menggiurkan jika dijual pada kolektor.


Foto diambil dari Antara


Towilfiets sendiri merupakan bisnis dibidang pariwisata atau lebih spesifiknya adalah guide tour dengan berbagai macam paket wisata yang ditawarkan. Dalam paket yang ditawarkan, wisatawan diajak  mengayuh seperda onthel untuk berkeliling desanya untuk melihat sekaligus mempelajari kearifan local yang ada. Tentu kita mungkin berfikir, bagaimana Towil menjalankan usahanya diatas usaha orang lain di sekitarnya? Towil sendiri juga melakukan “kulonuwun” dan Kerjasama dengan orang-orang yang usahanya ia jadikan untuk destinasi wisatanya, seperti pemilik sawah, produsen tempe, produsen kerajinan dan lain sebagainya. Hal inilah yang membawa TowilFiets tumbuh dengan baik karena ada support yang baik oleh kalangan disekitarnya dan tentu konsep pemasaran yang ia terapkan, yaitu system getok tular yang mengandalkan relasi dan tentu pemanfaatan media. Pemandangan desa yang masih asri dan gemercik air tentu memberikan kesan relaxing yang disenangi oleh para wisatawan sehingga cita-citanya untuk membuat pola wisata di Jogja berubah dapat terealisasikan. Ya, cita-citanya adalah membuat para wisatawan tinggal lebih lama di Yogyakarta dan mendalami lebih lanjut mengenai berbagai hal sebuah sector pariwisata seperti pola wisata yang ada di Bali. Karena menurutnya Yogyakarta tidak kalah banyak potensinya daripada Bali hanya belum tereksplore dengan baik. Maka tak heran dengan terobosan yang dilakukan oleh Towil ini sangat digemari oleh wisatawan asing dan seringkali diajak Kerjasama oleh agency tour and travel untuk melayani turis manca negara berwisata ala TowilFiets.


Foto diambil dari Facebook TowilFiets


Foto diambil dari Facebook TowilFiets
Hal ini Juga dapat dikaitkan dengan teori milik Baudrillard yaitu dalam bukunya yang berjudul Simulacra and Simulacrum, dimana ada konsep hiperrealitas yang menurutnya terdapat realitas mediascape yaitu dimana media memiliki kekuatan yang lebih dari biasanya dan membentuk citra-citra sehingga membuatnya terlihat hidup bahkan lebih hidup dari yang sebenarnya. Image Yogyakarta yang telah melekat sebagai daerah yang memiliki budaya yang cukup kental serta alam yang indah dan ditambah dengan bumbu-bumbu media tentu menjadikan citra Yogyakarta menggiurkan bagi wisatawan. Keadaan ini tentu sangat mendukung bisnis TowilFiets ini dalam hal mendatangkan wisatawan dan TowilFiets cukup melakukan branding ringan untuk lebih mengangkat namanya. Berbeda jika usaha ini dilaksanakan didaerah lain yang tidak memiliki previlage sebaik Yogyakarta dalam pembentukan citranya, tentu pengusaha harus berusaha lebih keras terlebih dahulu untuk membentuk citra yang baik pada daerahnya dahulu baru pembentukan citra pada usahanya. Didukung dengan pendapat Baudrillard yang lain dimana konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi, bukan lagi produksi. TowilFiets beruntung dapat berdiri diantara keduanya. Ia memanfaatkan konsumtif dari wisatawan ditambah juga membantu proses keberlangsungan produksi dari berbagai produsen yang ia ajak Kerjasama dalam tour and travelnya.

Foto diambil dari Facebook TowilFiets


Towil pun turut mengajak masyarakat Yogyakarta untuk mengeksplore daerahnya lebih dalam lagi karena ia yakin bahwa Yogyakarta tidak akan kehilangan potensi. Budaya, Agama, Sosial, dan lain sebagainya merupakan part-part yang dapat digali lebih jauh lagi oleh masyarakat untuk menarik wisatawan ke Yogyakarta dan tentu dengan pelayanan dan marketing yang baik pula agar menimbulkan kesan. Diharapkan masyarakat Yogyakarta juga mau untuk saling bersinergi satu sama lain agar dapat mewujudkan sector pariwisata yang unggul bahkan dapat menyaingi Bali suatu saat nanti. Towil pun turut membubuhkan kalimat pamungkasnya, yaitu “Hobimu bisa jadi penghasilan dan lingkunganmu bisa jadi penghidupan”.




Andrean Nur Fauzi - 18107030063 - Advertising A
Reading Time:

Wednesday, May 13, 2020

Nulis Matek Gak Nulis Matek
May 13, 20200 Comments


Dalam sesi live Instagram dengan Endik Koeswoyo yang notabene seorang penulis script, novel, skenario dan lain sebagainya ini ditemui banyak insight baru baik berupa pengalaman pribadi maupun wawasan umum. 

Yang mungkin akan sangat terasa adalah ketika kita memulai sesuatu hal di apapun bidangnya, kita terbiasa untuk selalu menelan mentah-mentah ilmu tersebut tanpa adanya pengkajian yang lebih dalam lagi. Dikatakan bahwa peluang dan kemandirian itu penting dan harus dicari. Mengapa demikian? Perasaan cukup justru menjadi bumerang bagi kita untuk tidak lagi berkembang dan lambat laun pasti akan terkalahkan oleh orang lain yang lebih struggle dibandingkan kita. Terlebih lagi ketika kita memiliki seorang yang dianggap men-influence kita, sejatinya kita selalu mengikuti perkembangannya dan juga menggali lebih dalam bagaimana dia mampu berada dititik tersebut sebagai penambah wawasan kita dan juga termasuk menambah sudut pandang.

Banyak dari kita yang mungkin memulai sesuatu hanya karena ketertarikan semata ataupun berada di layer atas keingin tahuan. Namun tidak ada salahnya untuk kita mengetahui terlebih dahulu apa tujuan kita dibidang itu baru menjalankannya supaya langkah yang seharusnya kita pilih itu jelas. Apakah hanya sebatas kegiatan ataupun menjadi mata pencaharian yang proper. Ketika kita mengambil keputusan untuk menjadikannya mata pencaharian, maka jangan pernah ragu untuk menawarkan kemanapun produknya dan juga turut mencari penjelasan mengenai sistemnya sebagai cambuk kita benar benar semangat  dan terjun kedalamnya termasuk melakukan riset, mencari referensi dan tentu juga untuk menyelesaikannya.

Bersoal mengenai referensi, kemampuan kita akan biasa biasa saja jika kita tidak terjun total kedalamnya. Ketika kita telah terjun maka kita akan tau dimana kita seharusnya menempatkan diri dan siapa yang seharusnya menjadi acuan atau panutan kita mendalami hal tersebut. Sehingga ide dan wawasan akan terus fresh dan meminimalisir stuck. Mengetahui segmentasi pun juga menjadi dasar kita memilih seorang acuan. Karna tidak semua pasar dapat di mix and match kecuali idealisnya telah terbentuk sebagaimana mestinya.

Dalam kepenulisan sebuah naskah sendiri, terdapat sebuah formula umum sebuah cerita yang biasa disajikan yaitu berupa sebuah konflik yang diakhiri dengan plot twist. Adanya hubungan antar aktor pun juga menambah kemanisan sebuah cerita untuk dinikmati namun jangan sampai jumping dalam pendelivery-an sebuah cerita. Termasuk dalam sebuah naskah yang baik tidak disarankan untuk mengulang cerita yang sama karna hal itu akan membuat audience bosan dan membaca cerita sebelum melihat keseluruhannya.

Permainan cocoklogi dan dihubungkan dengan cerita masa kini juga termasuk sebuah rumus yang biasa dipakai dalam kepenulisan naskah. Dan ide-ide tersebut diharapkan selalu fresh dengan menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara mengamati dan membaca lebih banyak lagi referensi serta trend. Endik sendiri memiliki rumus pribadi dalam kepenulisannya, yaitu 100 halaman referensi sama dengan 1 halaman tulisan pribadinya. 



Andrean Nur Fauzi - 18107030063 - Advertising A
Reading Time:

Tuesday, April 21, 2020

Perbedaan Perspektif dalam Memandang Iklan
April 21, 20200 Comments

Dalam materi resepsi audiens, terdapat beberapa model termasuk salah satunya adalah model Encoding dan Decoding. Pada model ini, terjadi penyampaian dan penerimaan makna yang berpola sama. Pada penerapannya seringkali proses ini berjalan namun antara makna yang di sampaikan oleh pengirim ditangkap dengan berbeda arti oleh penerima. Kesalahan ini pula yang sering terjadi pada proses penyampaian iklan baik konvensional maupun digital.
Dalam beriklan, beberapa pihak yang terlibat biasanya menggunakan pandangan subjektifnya untuk membuat, mendeliver, bahkan menerima sebuah pesan. Sisi subjektifitas itulah yang akhirnya seringkali membuat sebuah iklan tidak tersampaikannya makna yang seharusnya bahkan dapat menuai kontroversi.


Seperti yang terjadi pada iklan kartu perdana Fren pada sekitar tahun 2009 lalu. Dalam iklan tersebut, model dan copywrite yang terpampang jelas menimbulkan ambiguitas. Ambiguitas ini berada pada sisi apakah yang dimaksud oleh pengiklan adalah selalu terbuka dalam pemakaian pulsa atau mungkin terbuka dari sisi yang lain. Sedang penggunaan model yang menampilkan tubuh yang terbuka juga memberikan kesan lain pada iklan ini. Jika iklan ini dilihat pertama oleh saya, maka saya tidak mendapatkan adanya unsur yang berkaitan atau bahkan masuk akal jika ini sebenarnya membahas kartu perdana, justru saya lebih melihat seperti iklan spam di internet khas tahun 2008-2010 yang menjajakan situs porno atau yang berkaitan mengenai hal tersebut.  Jika maksud dari pengiklan adalah mengambil sisi hiperbola, maka saya rasa terlalu jauh dan kurang layak.

Selain Iklan Fren yang mengalami ambiguitas makna, iklan selanjutnya pun juga mengalami ambiguitas makna yang sama. Iklan ini sudah sangat sering menimbulkan kontroversi dalam dunia periklanan cetak, yaitu adalah Rabbani. Entah mereka jadikan sebagai cirikhas sebuah brand yang selalu mencounter pihak lain Ketika beriklan atau ada maksud lain, Rabbani kerap menimbulkan kontroversi yang cukup berarti. Seperti iklannya yang satu ini, sebuah billboard terpampang luas bertuliskan “KORBAN tu ga wajib, yg wajib tu BERHIJAB”. Sebuah copywrite yang terpampang jelas dengan imbuhan kambing yang sedang menjulurkan lidahnya dan memakai jilbab ini menimbulkan kesan negative. Jika ditelaah memang benar bahwa dalam hukum islam, Qurban itu hukumnya sunnah. Dan dalam beberapa literatur disebutkan bahwa berhijab itu wajib. Namun ketika hal itu menjadi konsumsi public, maka iklan tersebut tentu tidak pantas karena adanya indikasi menyudutkan sebuah ajaran.



Andrean Nur Fauzi - 18107030063 - Advertising A
Reading Time:

Monday, March 30, 2020

Instagram Rumah Utama (Analisis Post Instagram)
March 30, 20200 Comments
        
Instagram merupakan platform media sosial yang bisa dibilang paling dekat dengan saya. Tempat dimana saya bisa menyalurkan hobi dan melakukan branding diri secara bersamaan. Konsep yang mudah dan menyasar pada sifat dasar manusia membuat Instagram digandrungi banyak orang dari berbagai kalangan dan dengan berbagai tujuan pula. Kenapa saya bilang menyasar pada sifat dasar manusia? Dalam prosesnya, sebenarnya Instagram menggunakan beberapa poin utama, seperti menuntut untuk menyajikan sesuatu yang menarik, mengajak untuk berkompetisi, dan adanya prinsip amati, tiru, modifikasi yang berkembang sehingga membuat adanya pasar sendiri yang dikategorikan berdasarkan konsep, tone, hingga ukuran gambar itu sendiri.

Proses amati, tiru, modifikasi (ATM) ini sangat marak dilakukan oleh pengguna Instagram mulai dari adanya tren hingga mengambil main idea dari sebuah konten. Hal inilah pula yang saya lakukan dalam beberapa waktu saya memotret atau memproses gambar itu sebelum mengunggahnya ke Instagram. Dibawah ini merupakan beberapa contoh dari post Instagram saya yang saya ambil dengan main idea serupa dengan beberapa foto karya orang lain.


Foto Berpaku pada Pipa Besi Lurus
Lokasi: Farm House, Lembang, Bandung

Foto diatas merupakan contoh foto pertama yang saya ambil dengan meniru penempatan objek utama dan penggunaan objek pendukung terhadap dua foto disamping kanan. Dalam foto ini sebenarnya menggunakan metode yang sangan simple namun terkadang terlupakan. Bagaimana sebuah objek utama mampu tetap menjadi point of interest dan objek pendukung menambahkan kesan tersendiri. Pipa yang bergaris lurus dan difoto dari kemiringan tertentu akan menimbulkan kesan adanya arena yang bermain dan pada akhirnya membantu mata untuk menuju pada objek utama yang di  posisikan di tempat tertentu. Pengambilan foto seperti ini biasanya menggunakan rule of third. Dari ketiga foto tersebut, perbedaan yang paling mencolok adalah pada bagian warna atau grading. Grading sendiri tidak ada aturan baku/pasti dan bahkan termasuk hal yang segmented. Kedua foto disebelah kanan diberi warna cenderung soft dengan sedikit vignette karena untuk memperkuat kesan romantis dan suasana yang hangat. sedangkan foto yang saya ambil memiliki warna yang cenderung gelap karena untuk mendukung dari objek utama itu sendiri, yaitu seorang laki-laki yang berjaketkan jeans dengan raut wajah yang sedikit angkuh.

Foto dengan Sofa
Lokasi: Hotel Atrium Yogyakarta
Pada foto kedua ini, objek utamanya adalah seorang model yang duduk dengan berbagai gaya dan sudut pengambilan gambar. Selain itu terdapat pula objek pendukung yaitu majalah dan sofa. Foto ini mengambil main idea  dari foto yang diambil oleh Bagoes Kresnawan (Bagus Tikus) yang disesuaikan dengan properti yang ada. Penempatan objek utama berada di sisi kiri dan pengambilan gambar dari sudut 45 derajat membuat foto terlihat lebih fleksibel dan tidak terlalu kaku, ini juga yang saya ambil main ideanya dari akun nesnumoto. Selain sudut dan penempatan objek utama, tone yang diterapkan pada foto tersebut juga mendukung suasana yang tertangkap. Warna yang dominan coklat serta cahaya yang tidak terlalu keras menimbulkan kesan manis dan damai, sama seperti yang diterapkan pada foto nesnumoto. Seperti yang kita bisa lihat bahwa foto dengan grading cerah dan warna cenderung mencolok menimbulkan kesan foto tersebut ceria sedangkan warna yang halus dan sedikit mengurangi cahaya akan membuah foto tampak sendu.

Foto Konsep
Lokasi: Fishum, UIN SK
Dalam foto ini, poin utama saya adalah membuat foto konsep permainan seperti yang dilakukan oleh Indie corp difoto sebelah kiri. Foto konsep sendiri sebenarnya adalah sebuah teknik fotografi, dimana model diposisikan dengan konsep atau tema tertentu. Foto konsep yang saya pakai adalah permainan, maka dari itu tugas fotografer adalah mengarahkan model untuk bergaya layaknya sedang bermain sesungguhnya, sama seperti foto dari Indie Corp disebelah kiri. Kunci dari foto konsep agar terlihat menarik sebenarnya cukup dengan warna yang sesuai, penggunaan lensa dengan bukaan besar dan ke-luwesan model. Indie sendiri merupakan jasa fotografi buku tahunan yang sudah cukup punya nama sehingga banyak hasil fotonya yang bisa saya ambil poin pentingnya seperti foto diatas. Sedangkan pemilihan tempat saya berpaku pada gambar kanan bawa. Objek manusia jika dibenturkan dengan tumbuhan hijau yang muda akan menghasilkan gambar yang lebih menarik dan terkesan ceria.

Foto Journal dan Minimalism
Lokasi: de Tjolomadoe
Foto ini mungkin yang paling berbeda dari keiga foto diatas. Dalam foto yang saya abadikan di de Tjolomadoe, Solo ini saya mengambil konsep atau tren di Instagram yaitu minimalism dan post journal. Foto minimalism sendiri sebenarnya adalah teknik penataan objek dan background agar terlihat simetris dan rapih seperti gambar dibagian kanan atas. Selain itu, minimalism juga sering dikaitkan dengan adanya 1 objek utama yang mencolok dengan background clean. Sedangkan post journal adalah sebuah tren di Instagram yang booming mulai tahun 2019 awal. Inti dari post journal adalah kita membuat sebuah tatanan foto dengan menambahkan tulisan dan layouting yang baik seperti yang biasa dijumpai pada majalah. Kedua konsep tersebut lantas saya gabungkan dalam bentuk slidepost yang bersambung sehingga jika dilihat dari post pertama hingga terakhir rasanya akan seperti membaca sebuah majalah yang terangkai dengan baik.



Andrean Nur Fauzi - 18107030063 - Advertising A
Reading Time:

Monday, March 23, 2020

Antara Tergiur dan Terhipnotis (Cerita Tertipu Iklan)
March 23, 20200 Comments




Nama saya Andrean Nur Fauzi atau biasa dipanggil Andre. Saya besar dan tinggal di Sleman yang notabene secara peradaban berada satu tingkat dibawah kota Yogyakarta. Pada tahun ini di bulan November saya berumur 21 tahun. Dengan umur yang tidak bisa dikatakan remaja lagi dan telah banyak experience yang saya lewati. Sama seperti orang seumuranku, tanggung jawab sekarang akan lebih condong pada diri sendiri dan mengurangi tanggungan orang tua. Tidak dapat dipungkiri pula, semakin bertambahnya umur, kebutuhan akan suatu barang atau jasa pun meningkat. Terlebih lagi ada unsur “balas dendam” masa kecil yang baru mungkin dicapai pada umur sekian, khususnya yang berkaitan dengan hobi. Experience ini yang membuat saya kini memiliki beberapa cerita tersendiri dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi iklan.
Jika berpaku pada hobi, maka akan terlihat berbeda antara saya belasan tahun lalu dan saya di masa kini. Perbedaan itu sendiri dapat tergambar dari ketika saya kecil dulu, saya memandang sebuah hobi hanya sebatas suka karena keren, bagus, dan tampilannya menarik. Dan salah satu hobi saya yang masih tetap dari dulu hingga sekarang adalah bermusik, baik itu memainkan alat musik dan mendengarkan musik. Musik sendiri sudah bisa dibilang sebagai pelengkap atau yang sekarang dikenal dengan istilah “starterpack” saya. Dalam usia yang bisa dibilang anak-anak dulu, saya merasa cukup bahkan puas dengan keyboard “semi toy” yang bahkan pada masa itu dijual di samping ruas jalan UNY berdekatan dengan penjual kacamata. Namun seiring berjalannya waktu, ketika saya semakin mengerti akan sound quality dan eksplore musik yang lebih luas, saya menganggap keyboard tersebut sudah tidak terlalu layak bagi saya dan saya memutuskan untuk upgrade ke keyboard semi profesional, yaitu Yamaha PSR 450. Hal tersebut juga sama terjadi dalam kasus hobi saya yang lain yaitu mendengarkan musik. Pada usia anak-anak, saya tumbuh dengan speaker komputer basic dengan embel-embel “yang penting bunyi”. Dan tidak masalah bagi saya ketika itu. Karena pengetahuan saya pada masa itu cukup saya bisa mendengarkannya dan menghibur diri saya. Tapi hal itu turut berubah ketika saya menginjak usia remaja dan saya mulai sedikit-sedikit tahu dan mempunyai standar sendiri dalam bermusik, maka saya upgrade perlahan-lahan baik dari perangkat audio speaker maupun earphone. Mungkin hal ini lumrah juga terjadi pada masyarakat umum. Bahwa semakin seseorang tahu dan menggeluti dunia tersebut, maka semakin bertambah pula poin-poin yang ia harus penuhi. 
Bagi saya yang hobi mendengarkan musik dan traveling, tentu pilihannya akan jatuh pada earphone dibandingkan dengan headset. Bentuk yang sederhana dan tidak memakan tempat menjadi nilai plus bagi earphone itu sendiri. Kini earphone juga banyak yang memberikan experience setara bahkan melebihi sekelas headset sekalipun. Fitur noise canceling, suara yang mendukung surround, detail yang luar biasa, dll. menjadikan earphone semakin banyak peminatnya walau terkadang adanya gap antara earphone yang berkualitas dan standar cukup terasa dari segi harganya. Iklan tentang earphone ini sendiri menyebar ke berbagai platform dan perbedaan itu biasa ditentukan dari kualitas dan harga barang tersebut. Seperti pada contohnya JBL yang mengiklankan produknya dengan web series yang diupload di Youtube, JBL ingin mengambil hati para anak muda yang pada masanya sangat menggemari web series. Selain JBL, Vyatta sendiri mengambil jalur yang hampir sama dengan JBL namun bedanya ia lebih menekankan pada jalur influencer yang dirasa mampu memperkenalkan produk baru dengan lebih baik dan menyasar ke banyak orang. Ada pula Advance dan Polytron yang sempat mengiklankan produk audionya di jalur televisi karna pasarnya yang disasar adalah orang yang orientasinya pada brand menengah. Berdasarkan dari iklan dan user experience yang dipaparkan oleh review yang ada di Youtube, saya pun memutuskan untuk membeli produk tersebut, yaitu JBL Flip 3. Saya membelinya di salah seorang distributor yang saya temui di marketplace. Pada saat itu ia menjamin keaslian dan legalitas produk tersebut dan memang benar asli yang dibuktikan dengan adanya kartu garansi resmi dan hologram khusus. Dalam katalognya pun juga terdapat earphone dari JBL yang menurut iklan dan review di Youtube suara cukup bagus walaupun tidak terlalu mahal, dan saya pun memutuskan untuk membelinya juga, JBL C100SI. 
Sesampainya di rumah saya mencoba produk tersebut. Yang pertama saya coba adalah JBL Flip 3 karena harga yang cukup mahal dan ingin memastikan bahwa apa yang saya beli itu bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Setelah puas bermain-main dengan Flip 3, saya lalu lanjut mencoba C100SI. earphone itu terasa fit in di telinga saya dan suaranya bagus bahkan mampu menyaingi kualitas earphone yang harganya 2 kali diatasnya. Namun setelah pemakaian  kurang lebih 3 bulan, harga murah dengan suara bagus ternyata harus ada yang dikorbankan. Ketahanan kabelnya tidak cukup baik dan kuat. Dan ini juga terjadi pada beberapa teman yang juga memiliki earphone tersebut. Dengan kasus yang sama, kabel sebelah kiri putus hanya dengan pemakaian tidak terlalu ekstrim, walaupun pada bagian kanan tetap bagus dan bisa digunakan seperti tidak terjadi apa-apa. 
Dengan owning experience yang tidak terlalu baik itu, anehnya saya justru membeli kembali earphone yang sama karena merasa suara yang diberikan sangat bagus dan sudah terlanjur cocok dengan karakter suaranya yang cukup bersih. Dan benar saja, setelah pemakaian sekitar 5 bulan, kabel bagian kiri menjadi korbannya. Setelah itu saya merasa cukup dengan earphone tersebut, lalu saya memutuskan untuk pindah ke merk lain dan  saya memutuskan untuk membeli Knowladge Zenith ZS3 yang juga saya dapat iklannya dari Youtube dan dengan pertimbangan review pula. Earphone jenis ini ternyata berbeda sekali dengan JBL yang pernah saya punya. Dari segi bentuk yang lebih menempel pada telinga, dari segi detail lebih terasa karena seri ini termasuk kedalam monitor earphone, dan dari jenis kabelnya terasa lebih baik karena antara kabel dan earphonenya disediakan opsi untuk lepas pasang sehingga lebih fleksibel. Terlebih lagi earphone ini upgradeable, baik dari kabelnya maupun dari earphonenya itu sendiri.  Setelah saya pakai dalam kurun waktu beberapa bulan, perbedaan tersebut yang saya kira akan jauh lebih baik justru malah membuat saya sedikit kurang nyaman karena perlu adaptasi lebih lagi dengan earphone ini, termasuk sempat merasakan pusing karena tidak terbiasa dengan driver earphone yang cukup kuat. Akhirnya saya merasa kecewa karena terlalu percaya kepada iklan dan langsung membelinya tanpa berpikir panjang.
Selain earphone, saya juga pernah tertipu iklan masa kecil yang mungkin juga dialami oleh beberapa anak pada masanya. Seperti yang kita tau, antara tahun 2005 hingga 2010, masa kecil anak-anak pada masa itu dihiasi dengan iklan sepatu Homyped dan Carvil yang menyediakan gimmick mainan berbagai macam. Pada masa itu, digambarkan mainannya sangatlah keren dan beda dari mainan pada umumnya dan saya pun meminta pada orang tua untuk membeli sepatu itu. Namun ketika sudah terbeli, mainannya hanya sebatas unik namun tidak sekeren dan se-fantastis yang digambarkan di televisi, mengingat imajinasi anak-anak pada masa itu berkaitan dengan film-film semacam Power Ranger. Pada masa itu sempat tidak suka dengan mainannya walaupun sudah terbeli dan cukup kecewa. Namun pemikiran anak-anak dan penggambaran visual pengiklan yang cukup menarik dengan gimmick-gimmick yang eye catching, saya pun tetap meminta untuk dibelikan sepatu tersebut ketika muncul gimmick model terbaru di iklankan.
Sebenarnya Gimmick ini sah-sah saja dilakukan oleh pengiklan.  mengingat sebuah produk memerlukan nilai x sebagai daya saing terhadap brand lain. Gimmick itu sendiri biasa disesuaikan dengan target pasar yang hendak dituju. Seperti misalnya ketika sebuah brand ingin memenangkan persaingan dengan target pasar anak-anak akan memberikan gimmick yang berkaitan dengan keseharian anak-anak seperti mainan ataupun aksesoris. Dan jika target pasarnya adalah remaja yang suka berolahraga maka gimmick tersebut bisa berupa aksesoris olahraga ataupun poster atlet. 
  Tidak hanya gimmick untuk memenangkan pasar, produsen juga terkadang melakukan apa yang disebut sebagai subsidi silang.  Seperti halnya yang dilakukan oleh JBL dalam cerita di atas, pihaknya mengorbankan kualitas kabel untuk mendapatkan kualitas yang baik di segi suara dan harga. Hal tersebut cukup masuk akal karena JBL merupakan perusahaan yang menjual produk  yang berkaitan dengan audio, sehingga dapat dipastikan Orang yang membeli JBL  berarti ia tertarik untuk mencicipi kualitas suara cara dari produknya. Sehingga ketika orang tersebut telah tertarik dengan kualitas suaranya, diharapkan orang tersebut akan  mengupgrade pilihannya ke kualitas yang lebih baik.Jadi pihak JBL menggunakan earphone tersebut sebagai tester untuk pengguna baru JBL. Dengan harga yang relatif murah, pembeli pun akan terseleksi dengan sendirinya. Orang yang tertarik akan suara dari JBL pasti akan membeli produk yang lebih baik daripada ada produk JBL C100SI sedangkan ketika konsumen tidak memutuskan untuk membeli produk yang lebih baik, JBL sudah mendapatkan keuntungan dari earphone tester tersebut.
Namun trik iklan seperti ini kadang juga dimanfaatkan oleh pengiklan dengan dalih hiperbola sehingga tercipta visual yang sedikit rancu atau terkesan menipu. Hal ini yang harus dicermati oleh konsumen agar tidak tertipu dengan mindsetnya sendiri.



Andrean Nur Fauzi - 18107030063 - Advertising A

Reading Time:
andreannfz